ADMIN Effendi-Dmth.blogspot MENGUCAPKAN SELAMATMENYAMBUT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 HIJRIAH MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Thursday, June 07, 2012

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIAJAR DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DENGAN KONVENSIONAL DALAM MATA PELAJARAN IPA TERPADU


BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan dan pembelajaran merupakan dua kata yang memiliki arti yang berbeda. Pendidikan menitik beratkan pada pembahasan 3 aspek yaitu: aspek Afektif, Kognitif dan Psikomotorik. Sedangkan pembelajaran lebih memfokuskan pada pembahasan 2 aspek yaitu Afektif dan Psikomotorik. Dengan demikian pendidikan memiliki bidang bahasan yang lebih luas daripada pembelajaran.
Keluasan pembahasan pendidikan ditujukan dengan subyek pendidikan itu sendiri yaitu manusia. Pendidikan memandang manusia sebagai suatu kesatuan yang utuh, yang terdiri dari jasmani dan rohani serta memiliki berbagai potensi yang harus dikembangkan. Sedangkan pembelajaran memandang manusia sebagai suatu individu yang mampu menerima seperangkat konsep-konsep ilmu pengetahuan dalam dirinya dan mengembangkan dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan. Dimana tujuan dari pendidikan yang diharapkan dapat memberikan suatu nuansa berfikir bagi perkembangan pemikirannya, sebagaimana hal tersebut dapat kita lihat dari tujuan yang telah dirumuskan dalam lembaga pendidikan seperti yang tertera dalam Undang-undang Pendidikan Nasional yang akan dapat mengarahkan perkembangan manusia kepada arah yang sesuai dengan tuntutan masa.
Karena pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan mereka dalam penerapannya, agar berhasil optimal memerlukan berbagai pendekatan dari pendidik. Pendekatan yang dilakukan dapat menyangkut metode, alat peraga sumber belajar maupun kelengkapan sarana dan prasarana yang dapat menunjang terjadinya proses belajar dalam diri anak didik.
Berbagai pendekatan yang dimaksud dinamakan dengan strategi pembelajaran. Strategi pembelajaran berisi seperangkat kegiatan yang harus dilakukan guru dan siswa agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan kondusif dan maksimal dalam arti dapat dipahami oleh anak didik dan dengan pemahaman tersebut anak didik akan terdorong untuk melaksanakannya dan menjadi keterampilan tertentu dalam diri anak didik tersebut.
Ilmu pengetahuan juga dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara, masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang berilmu pengetahuan yang cukup dan terdidik merupakan masyarakat yang unggul, karena anggota masyarakatnya dapat mencapai kemajuan dan kemunduran.
Untuk meningkatkan taraf hidup bangsa Indonesiadan juga dalam rangka melaksanakan pembangunan di segala bidang, maka pendidikan merupakan salah satu bidang yang harus diperhatikan. Lembaga pendidikan adalah sesuatu produk yang akan mengarahkan kehidupan seseorang menjadi terarah, proses strategi untuk menciptakan kepribadian yang diwarnai dengan hasil belajar dan berbagai perkembangan akan tercipta dengan baik manakala unsur dalam pemrosesan yang dilaksanakan mengacu pada norma-norma yang telah ditetapkan. Belajar pada intinya adalah untuk menciptakan suatu pengetahuan yang meningkat. Pelaksanaannya begitu kompleks yang terkadang penuh dengan persaingan. Strategi dalam proses pembelajaran digunakan untuk menciptakan suatu solusi saat memberikan materi penyajian. Penyajian yang dilakukan oleh pendidikan akan menciptakan pentransferan pengetahuan baik berupa strategi penggunaan metode maupun dalam menggunakan alat peraga. Metode penyampaian yang digabung dengan kemampuan meramu bahan materi akan menjadi masuk dan mudah diserap anak didik, bila guru dalam mengelola bahan dengan bahan dengan seoptimal mungkin.
Model pengajaran dapat berfungsi  sebagai sarana komunikasi yang penting.  Penggunaan pengajaran tertentu  memungkinkan guru dapat mencapai tujuan  pembelajaran tertentu (Anonim, 2002). Setiap  model memerlukan sistem pengelolaan dan  lingkungan belajar yang sedikit berbeda. Setiap pendekatan memberikan peran yang berbeda kepada siswa pada ruang fisik atau pada sistem sosial kelas. Salah satu alterntif model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model pengajaran langsung. Dalam model” Belajar mengajar pada dasarnya adalah interaksi atau hubungan balik antara guru dan siswa dalam situasi pendidikan. Oleh karena itu, guru dalam mengajar dituntut kesabaran, keuletan dan sikap terbuka di samping kemampuan dalam situasi belajar mengajar. Salah satu kegiatan pendidikan adalah menyelenggarakan proses belajar mengajar. Belajar sebagai suatu aktivitas mental/ psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Belajar dapat membawa perubahan, dan perubahan itu pada pokoknya adalah untuk memperoleh kecakapan baru melalui suatu usaha sains, mata pelajaran biologi mempunyai karakteristik tersendiri khususnya pada kajian tentang biologi. Mata pelajaran biologi di SMP/ MTs merupakan perluasan dan pendalaman biologi di sekolah dasar dan mempelajari pola interaksi komponen-komponen yang ada di alam serta upaya manusia untuk mempertahankan keberadaannya di bumi (Rustaman dkk, 2003).
Penerapan  kurikulum 2006 merupakan terobosan baru dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di Indonesia. Rumusan kompetensi dalam kurikulum 2006 merupakan pernyataan bahwa pembelajaran IPA  Terpadu sebaiknya dilaksanakan  secara inkuiri ilmiah (Scientific Inquiry) untuk  menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA Terpadu  di SMP/ MTs  menekankan pada pemberian pengalaman dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah (Bambang Sudibyo, 2006).
Pada kurikulum 2006 dikemukakan bahwa pendidikan IPA Terpadu diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA Terpadu diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman tentang alam sekitar (Bambang Sudibyo, 2006).
Pembelajaran IPA Terpadu sebaiknya diarahkan kepada kegiatan-kegiatan yang mendorong siswa belajar aktif baik secara fisik, sosial, maupun psikis dalam memahami konsep. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran biologi hendaknya guru menggunakan metode yang membuat siswa banyak beraktifitas. Dengan banyaknya aktifitas yang dilakukan, diharapkan dapat menimbulkan rasa senang dan antusias siswa dalam belajar. Dengan demikian, pemahaman konsep biologi semakin baik dan hasil belajarnya akan meningkat.
Metode pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran (kelompok atau individu). Pada dasarnya tak ada metode pembelajaran yang ampuh, sebab setiap metode pembelajaran yang digunakan pasti punya kelebihan atau kelemahan; Oleh karena itu dalam pembelajaran bisa digunakan berbagai metode, sesuai dengan materi yang diajarkan.
Keefektifan metode mengajar yang digunakan hanya untuk mengetahui hasil belajar siswa bukan untuk mengukur guru. Rata-rata skor yang dicapai oleh siswa kemudian diambil sebagai suatu ukuran keefektifan pengajaran. Kemudian mungkin dikonsolidasikan untuk memberi data keefektifan guru di sekolah, baik sekolah di tingkat kabupaten, desa atau yang sesuai dengan kategori itu (Suparlan, 2005). Hasil observasi awal dan wawancara  dengan guru dan siswa kelas ................ diperoleh pembelajaran yang ada cenderung monoton, yaitu ceramah saja sehingga proses pembelajaran hanya berjalan satu arah. Hal ini menyebabkan siswa tidak termotivasi untuk belajar biologi.
Belajar dengan model siswa hanya menerima informasi kurang bermakna bagi siswa sehingga banyak siswa yang menganggap biologi sebagai pelajaran hafalan. Seringkali guru menciptakan  suasana pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa, guru banyak bercerita tanpa memperlihatkan siswa apakah sudah paham atau belum, yang penting bagi guru adalah materi tersebut sudah diajarkan. Keadaan seperti ini membuat siswa beranggapan bahwa biologi merupakan pelajaran  yang membosankan. Akibatnya siswa  tidak termotivasi untuk mempelajari  biologi dengan baik sehingga hasil belajar yang dicapai rendah.
Secara alami  manusia selalu mengalami masalah dalam kehidupannya. Karena itu selayaknya jika manusia  termasuk siswa pada khususnya perlu berlatih menyelesaikan masalah. Pendidikan tidak hanya mengajarkan fakta dan konsep, tetapi juga harus membekali peserta didik untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. Bermain peran (role playing) merupakan salah satu cara pemecahan masalah dalam suatu proses komunikasi (Mulyasa, 2005).
Model ini (role playing) melatih penguasaan bahasa yang baik dan benar. Sepandai apapun seseorang akan diketahui melalui media bahasa baik tulisan maupun lisan. Penguatan kompetensi dalam berbahasa menjadikan siswa belajar IPA Terpadu lebih dewasa dan matang di lingkungannya. Pelaku pembelajar akan memiliki konsep yang tidak mudah hilang. Bermain peran juga merupakan atribut alat peraga aktivitas yang menarik biasanya di awali dengan kostum yang menyolok dan nyeleneh. Hal ini sangat mungkin dijadikan sebagai alat peraga bagi  guru untuk menjelaskan suatu konsep, sebagai contoh macam warna dapat menunjuk konsep keberagaman dan persamaan (Anonim, 2007).
Bahwa bermain peran banyak dipakai  dalam pengajaran karena kegiatan belajar dan mengajar dengan menggunakan metode ini sangat menyenangkan. Bermain peran bisa di lakukan dengan mengikuti dialog yang ada dalam wacana, bisa berperan bebas sesuai dengan imajinasi, memerankan senang, sedih, bosan, marah, dan sebagainya (Anonim, 2008). Bermain peran (role playing) adalah pembelajaran dengan cara seolah-olah berada dalam situasi untuk memperoleh suatu pemahaman tentang suatu konsep. Untuk melakukan pembelajaran bermain peran sebelumnya siswa harus memiliki pengetahuan awal agar dapat mengetahui karakter dari peran yang dimainkannya. Tugas guru selanjutnya adalah memberi penjelasan dan penguatan  terhadap simulasi yang dilakukan dikaitkan dengan konsep yang relevan yang sedang dibahas.
Bermain peran (role playing) banyak melibatkan siswa untuk beraktivitas dalam pembelajaran dan akan menciptakan suasana yang menggembirakan sehingga siswa senang dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Dengan demikian kesan yang didapatkan siswa  tentang materi yang sedang dipelajari akan lebih kuat, yang ada pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Hasil belajar akan dapat dicapai dengan tingkatan yang memuaskan apabila proses belajar mengajar yang dilakukan saling berinteraksi antara guru dan anak didik. Pentingnya strategi dan pembelajaran yang akan mengarahkan suatu hasil belajar yang sesuai dengan tuntutan tujuan pendidikan akan berjalan, namun bila materi yang telah dikemas dengan baik tidak dibarengi dengan strategi yang baik maka akan mengalami hal yang cacat pada penyampaian materi. Dari uraian di atas dapat  diketahui bahwa keberhasilan proses belajar mengajar tergantung pada strategi pembelajaran dan prestasi belajar yang dicapai oleh siswa, di samping ada faktor lain yang turut menentukan di dalamnya yaitu:
  1. Guru yang mengajar
  2. Anak didik
  3. Metode yang diterapkan
  4. Penguasaan materi
  5. Lingkungan baik dari dalam maupun dari luar
  6. Sarana dan fasilitas yang tersedia
Demikian juga dengan mata pelajaran IPA Terpadu yang sangat membutuhkan strategi pembelajaran yang baik agar siswa dapat menyerap materi pelajarannya. Mata pelajaran IPA Terpadu membutuhkan strategi pembelajaran yang mampu memberikan pemahaman yang konkrit bagi siswa, sehingga materi pelajaran IPA yang abstrak dapat menjadi lebih konkrit.
Dengan kompleks permasalahan antara hasil belajar dengan strategi pembelajaran yang menggunakan Role Playing dengan Konvensional memberikan suatu motivasi bagi peneliti untuk menelusuri penelitian dengan mengangkat judul “PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIAJAR DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DENGAN KONVENSIONAL DALAM  MATA PELAJARAN IPA TERPADU KELAS ......................T.P .......................... ”.
B.     Identifikasi Masalah
Riduan (2004: 9) mengatakan identifikasi masalah pada umumnya mendeteksi melacak masalah yang muncul dan berkaitan dari judul penelitian atau dengan masalah variabel yang akan diteliti.
Maka identifikasi masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Model pembelajaran role playing belum diajarkan.
  2. Hasil pembelajaran metode konvensional kurang memuaskan
  3. Diharapkan model pembelajaran role playing dapat meningkatkan prestasi belajar.
  4. Bagaimana hasil belajar siswa dengan menggunakan strategi pembelajaran konvensional pada mata pelajaran IPA terpadu kelas ................................ Tahun Pelajaran: ........................
C.    Batasan Masalah
Pembatasan masalah berguna untuk mempertajam atau memperjelas konsep yang diteliti. Selain itu pembatasan masalah berfungsi untuk memberi ruang lingkup terhadap masalah sehingga yang dibicarakan tidak meluas,  maka penulis membatasi masalah dalam penelitian tentang perbandingan hasil belajar siswa yang diajar dengan strategi pembelajaran role playing dengan konvensional dalam  mata pelajaran IPA Terpadu kelas ......................................... T.P ................  

Berminat dengan lanjutannya........>>Klik Di Sini >>


Artikel terkait:

Ditulis Oleh : Effendi Dalimunthe ~ Hidup Akan Terasa Indah Bila Saling Berbagi

Artikel PERBANDINGAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIAJAR DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN ROLE PLAYING DENGAN KONVENSIONAL DALAM MATA PELAJARAN IPA TERPADU ini diposting oleh Effendi Dalimunthe pada hari Thursday, June 07, 2012. Terimakasih atas kunjungan Anda serta kesediaan Anda membaca artikel ini. Kritik dan saran dapat anda sampaikan melalui kotak komentar.

:: Get this widget ! ::

SUBMIT YOUR SITE 4 FREE

0comments:

 
Related Posts Plugin for Effendi DmTh,